Selera Bangsa All articles
Gaya Hidup & Mode

Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal: Gerakan Arsitek Gen Z Indonesia yang Bikin Dunia Desain Terpana

Selera Bangsa
Rumah Bukan Sekadar Tempat Tinggal: Gerakan Arsitek Gen Z Indonesia yang Bikin Dunia Desain Terpana

Photo: Federal Bureau of Investigation, Public domain, via Wikimedia Commons

Ada yang berbeda dari cara anak muda Indonesia zaman sekarang memandang rumah. Bukan sekadar tempat tidur dan menaruh barang, bukan pula kompetisi siapa yang punya dapur paling Instagrammable. Bagi generasi Z yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an, rumah adalah pernyataan identitas—dan identitas itu sedang bicara dalam dua bahasa sekaligus: minimalis modern dan tradisi Nusantara.

Gerakan ini tidak lahir dari ruang seminar atau jurnal akademik. Ia tumbuh diam-diam di feed Instagram, di komentar Pinterest, di thread Twitter yang penuh foto rumah Jawa berdinding anyaman bambu berpadu furnitur garis tegas berwarna krem dan abu-abu. Tiba-tiba, dunia desain global mulai menoleh ke Jakarta, Bali, dan Yogyakarta—dan bertanya-tanya, dari mana estetika ini datang?

Ketika 'Less is More' Bertemu 'Rumah adalah Semesta'

Filosofi minimalis Barat—yang dipopulerkan oleh arsitek Jepang seperti Tadao Ando dan dipoles oleh tren Skandinavia—memang sudah lama merasuki kelas menengah perkotaan Indonesia. Tapi Gen Z tidak menelannya mentah-mentah. Mereka mempertanyakan: kalau rumah hanya soal fungsi dan kekosongan, lalu di mana jiwa penghuninya?

Jawaban itu mereka temukan di warisan sendiri.

Rumah adat Jawa, misalnya, dibangun bukan sekadar untuk berteduh. Joglo punya hierarki ruang yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan komunitas. Pendopo—ruang terbuka di bagian depan—adalah undangan bagi siapa saja untuk singgah. Sementara rumah Batak di Sumatera Utara dan rumah Gadang Minangkabau menyimpan kode-kode sosial dalam setiap ukiran dan proporsi atapnya.

"Nenek moyang kita sudah tahu cara membuat ruang yang bernapas," kata Aldira Kusuma, 27 tahun, arsitek muda asal Bandung yang kini berbasis di Jakarta. "Mereka tidak perlu buku teks tentang biophilic design. Mereka sudah hidup di dalamnya."

Aldira adalah salah satu dari segelintir nama yang mulai diperbincangkan di komunitas desain Asia Tenggara. Proyeknya—sebuah rumah tinggal di kawasan Kemang, Jakarta Selatan—menjadi viral setelah foto-fotonya beredar di Instagram tahun lalu. Dari luar, bangunan itu tampak seperti rumah minimalis kontemporer biasa: garis-garis bersih, material beton ekspos, warna netral. Tapi begitu masuk ke dalamnya, ada sesuatu yang berbeda. Langit-langit tinggi berpola limasan seperti rumah Jawa. Ventilasi silang yang membuat angin mengalir alami tanpa AC. Dan di sudut ruang tamu, sebuah gebyok—panel kayu ukir tradisional Jawa—berdiri sebagai pembatas ruang sekaligus karya seni.

Bali Sebagai Laboratorium Hidup

Kalau Jakarta adalah tempat eksperimen urban, Bali adalah laboratorium hidup. Pulau ini sudah lama jadi magnet bagi desainer dunia, tapi yang terjadi sekarang berbeda dari sekadar Bali-inspired aesthetic yang dijual di toko furnitur IKEA atau Pottery Barn.

Desainer interior Sari Wulandari, 25 tahun, memilih menetap di Ubud setelah lulus dari sekolah desain di Singapura. Ia menghabiskan waktu berbulan-bulan berbicara dengan undagi—tukang bangunan tradisional Bali yang ilmunya diwariskan turun-temurun—sebelum memulai proyek pertamanya.

"Orang Barat sering salah kaprah," ujarnya. "Mereka pikir estetika Bali itu soal batu alam dan kolam renang. Padahal inti filosofinya adalah Tri Hita Karana—keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan. Itu yang saya coba masukkan ke dalam setiap desain."

Salah satu proyek Sari yang paling banyak dibagikan ulang di media sosial adalah renovasi sebuah vila kecil milik pasangan Amerika yang pindah ke Bali setelah pandemi. Mereka datang dengan keinginan 'rumah minimalis modern.' Sari mendengarkan, lalu pelan-pelan menambahkan elemen-elemen yang awalnya terasa asing bagi kliennya: orientasi bangunan yang mempertimbangkan arah mata angin sesuai konsep kaja-kelod Bali, taman dalam (natah) sebagai pusat sirkulasi udara dan cahaya, serta penggunaan material lokal seperti batu paras dan kayu jati daur ulang.

"Awalnya mereka ragu," cerita Sari. "Tapi setelah tinggal tiga bulan, mereka bilang ini rumah paling nyaman yang pernah mereka huni."

Viral Bukan Tujuan, Tapi Efek Samping

Yang menarik dari gerakan ini adalah bahwa popularitasnya di media sosial bukan hasil kampanye pemasaran. Ia tumbuh organik—didorong oleh rasa ingin tahu generasi muda yang bosan dengan estetika seragam dan haus akan sesuatu yang bermakna.

Akun-akun Instagram seperti @rumah.nusantara dan @desainkita kini memiliki ratusan ribu pengikut, kebanyakan dari Indonesia tapi dengan porsi audiens internasional yang terus bertumbuh—termasuk dari Amerika Serikat. Komentar-komentar dalam bahasa Inggris bertebaran: "Where can I find an architect like this in the US?", "This is the most soulful home I've ever seen", "I grew up in a cookie-cutter suburb and this is everything I wish my home could be."

Tren ini sebenarnya sejalan dengan pergeseran yang sedang terjadi di pasar properti Amerika. Laporan dari National Association of Realtors tahun 2023 menunjukkan bahwa pembeli rumah Gen Z dan milenial semakin memprioritaskan connection to nature, authentic materials, dan sense of place—nilai-nilai yang sudah lama tertanam dalam arsitektur tradisional Nusantara.

Beberapa firma desain interior di kota-kota seperti Los Angeles, Austin, dan Portland bahkan mulai secara eksplisit merujuk pada filosofi desain Asia Tenggara dalam portofolio mereka—meski tak selalu menyebutkan sumbernya.

Tantangan yang Tidak Boleh Diabaikan

Tentu saja, tidak semua berjalan mulus. Salah satu kritik yang kerap muncul adalah soal komersialisasi dan apropriasi. Ketika elemen-elemen seperti gebyok atau motif batik menjadi sekadar prop fotografi tanpa pemahaman konteks, ada yang hilang dari percakapan.

"Saya selalu tanya ke klien: kenapa kamu mau ini? Kalau jawabannya hanya karena kelihatan bagus di foto, kita perlu bicara lebih jauh," kata Aldira tegas.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan pengrajin lokal dalam setiap proyek—bukan hanya sebagai pemasok material, tapi sebagai mitra kreatif yang ilmunya harus dihargai dan dibayar layak.

"Ini bukan soal nostalgia," tambahnya. "Ini soal keberlanjutan—budaya, lingkungan, dan ekonomi lokal."

Rumah Sebagai Manifesto Generasi

Pada akhirnya, apa yang dilakukan para arsitek dan desainer muda Indonesia ini lebih dari sekadar tren estetika. Ini adalah pernyataan tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal—sebuah penolakan halus terhadap gagasan bahwa modernitas harus berarti menanggalkan akar.

Dan pesan itu rupanya bergaung jauh melampaui batas geografis. Di Amerika yang tengah bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan besar tentang identitas, komunitas, dan makna rumah di era pasca-pandemi, ada sesuatu dalam filosofi Nusantara yang terasa relevan dan menyegarkan.

Rumah bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah percakapan antara siapa kita dulu, siapa kita sekarang, dan siapa yang akan datang setelah kita. Gen Z Indonesia sepertinya sudah tahu itu sejak lama.

All Articles

Related Articles

Ustaz di Layar, Duta di Dunia: Kisah Content Creator Muslim Indonesia yang Taklukkan Algoritma Global

Ustaz di Layar, Duta di Dunia: Kisah Content Creator Muslim Indonesia yang Taklukkan Algoritma Global

Kode, Quran, dan Keyboard: Ketika Pesantren Indonesia Melahirkan Programmer Muslim Generasi Baru

Kode, Quran, dan Keyboard: Ketika Pesantren Indonesia Melahirkan Programmer Muslim Generasi Baru

Gotong Royong di Lembah Silikon: Bagaimana Pengusaha Muda Indonesia Membawa Jiwa Pesantren ke Dunia Startup Amerika

Gotong Royong di Lembah Silikon: Bagaimana Pengusaha Muda Indonesia Membawa Jiwa Pesantren ke Dunia Startup Amerika