Kucing Hutan Serta Berbagai Macam Jenisnya

Kucing Hutan

Hai, balik lagi di website ini yang begitu banyak informasinya. Langsung ke topiknya, kucing adalah salah satu hewan peliharaan yang paling umum di pelihara di dunia ini. Jenis dan juga spesies dari kucing sendiri terbagi dalam sistem klasifikasi ilmiah atau taksonomi yang sangat rumit. Akan tetapi anda tidak perlu memikirkan hal yang serumit itu, cukup dua saja yaitu spesies kucing domestik (Felis catus) dan spesies kucing hutan (Felis chaus).

Kucing Domestik atau bisa disebut dengan kucing rumahan merupakan kucing yang biasa dipelihara dan berinteraksi dengan manusia. Sedangkan kucing hutan merupakan kucing yang memiliki sifat liar, maka secara umumnya tidak dijadikan sebagai hewan peliharaan.

Walaupun memiliki nama kucing hutan, satwa satu ini sangatlah liar dan memiliki habitat di kawasan hutan. Kucing hutan atau yang memiliki nama ilmiah Felis bengalensis ini berukuran sama persis dengan kucing rumahan.

Berbagai jenis dari kucing hutan sebenarnya sangatlah banyak di dunia dan ada beberapa yang terancam punah bahkan sudah punah. Hal tersebut diakibatkan karena habitatnya yang terdegradasi, pemburuan liar, dan makanan yang terus berkurang. Dari IUCN Red List, ada sekitar 28 dari spesies kucing hutan yang ada di dunia ini.

Kucing Hutan Indonesia

Secara legalitas, kedua jenis kucing tersebut bisa dibedakan. Kucing domestik bisa dijumpai di berbagai macam tempat, dan kucing jenis ini dipelihara oleh siapapun. Sedangkan kucing hutan merupakan jenis fauna yang dilindungi oleh negara.

Harimau Sumatera

Harimau Sumatera

Harimau sumatera atau Panthera tigris sondaica adalah kucing besar yang masih berkerabat dengan jenis harimau lain, seperti harimau Jawa dan harimau Bali. Akan samat disayangkan bahwa kedua harimau tersebut sudahlah punah.

Dikabarkan jenis kucing ini hanya tersisa 300 ekor. Di habitat aslinya, yaitu hutan sumatera diperkirakan hanya tersisa 20 ekor yang hidup di alam liar. Rusaknya populasi dan habitat fauna ini dikarenakan perburuan liar yang semakin merebak

Walaupun memiliki tubuh yang sangat besar, hewan satu ini termasuk kedalam jenis kucing, dengan nama ilmiah Panthera tigris sumatrae ini dapat ditemukan di pulau Sumatra. Harimau sumatra adalah satu-satunya sub-species harimau yang masih bertahan hidup di Indonesia. Kucing ini sangat besar, memiliki anjang rata-rata 2,5 m dari kepala hingga ekor dengan berat sekitar 140 kg.

Dikarenakan harga yang selangit menyebabkan perburuan harimau sangat banyak terjadi. Dikarenakan hewan ini diperdagangkan orang tubuhnya seperti kulit, kuku, kumis, tulang belulang hingga tengkorak harimau diperjualbelikan oleh sindikat perdagangan ilegal satwa liar. Organ tersebut dipercaya memberikan khasiat, baik untuk klenik maupun pengobatan tradisional.

Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) mencatat bahwa jumlah Harimau yang masih bertahan di habitatnya diperkirakan berkisar antara 400-500 ekor saja. Kucing jenis ini telah memasuki status status Kritis/Critically endangered yang berarti jumlah hewan ini sudah menuju kepunahan.

Kucing Bakau

Kucing Bakau

Selain memiliki manfaat sebagai penahan abrasi, hutan bakau juga menjadi habitat kucing bakau. Kucing bakau atau Prionailurus viverrinus yang sering hidup sepanjang sungai dan rawa-rawa bakau. Kucing jenis ini bisa berenang dan menyelam untuk memangsa makanannya, berbeda dengan jenis kucing domestik yang rata – rata membenci air. Semua itu ditunjang dengan selaput diantara jari-jari kakinya yang sangat berguna saat kucing ini berada di air.

Kucing ini merupakan jenis Prionailurus yang sangat besar. Panjang kepala sampai badan mereka biasanya berkisar 57-78 cm dan memiliki ekor pendek 20-30 cm serta memiliki berat kucing ini 5-16 kg.

Menurut IUCN menyatakan kucing ini terancam punah karena perburuan liar dan habitat lahan basah yang semakin sering di jadikan pemukiman manusia, dirusak dan diubah.

Kucing Batu

Kucing Batu

Memiliki nama latin Pardofelis marmorata yang hidup di beberapa hutan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada zaman dahulu, kucing batu ini dipercaya mempunyai hubungan dengan pantherine atau kucing besar. Kucing jenis ini bisa anda temukan di hutan Sumatra dan Kalimantan.

Kucing ini mempunyai tubuh sepanjang 46 hingga 62 cm, panjang ekor 35 hingga 55 cm, berat mencapai 5 kg. Memiliki bulu berwarna coklat abu-abu, kuning dan hitam, mirip dengan kucing dahan. Dan fauna jenis ini emmiliki sifat suka berburu hewan kecil seperti burung, tupai, tikus dan reptil, serta termasuk jenis hewan nockturnal atau aktif di malam hari.

Menurut IUCN ( Uni Internasional untuk Konversi Alam) kucing jenis ini memiliki populasi kurang dari 10.000 kucing dewasa.

Kucing Emas Asia

Kucing Emas Asia

Kucing jenis ini memiliki nama latin Catopuma temminckii yang merupakan jenis kucing yang pemalu. Fauna ini bisa anda temui di seluruh kawasan Asia Tenggara, mulai dari Tibet, Nepal, India, Myanmar, Thailand, China Selatan, Malaysia dan Indonesia, khususnya daerah Sumatera.

Jenis kucing ini memiliki keberadaan yang sangat jarang terlihat karena menghindari aktivitas manusia. Memiliki karateristik dan ciri seperti panjang tubuh mencapai 116 hingga 161 sentimeter dan beratnya berkisar antara 12-15 kilogram.

IUCN ( Uni Internasional untuk Konversi Alam)  emasukkan jenis kucing ini dalam daftar merah hampir terancam punah/Near Threatened.  Hal tersebut terjadi karena perburuan liar serta dipercayanya tulang kucing emas berkhasiat untuk pengobatan dan dagingnya sangat lezat.

Kucing Hutan Blacan Atau Bengal

Kucing Hutan Blacan Atau Bengal

Kucing blacan dengan nama latin Leopard Cat Iaitu Felinebengalenis atau kucing hutan Borneo dan sering disingkat sebagai Bengal Tiger Cat merupakan kucing hutan Bengalensis.  Kucing ini merupakan hasil kawin silang dengan pola soptted wild cat yang dilakukan oleh dr. Centerwall seorang ahli genetik.

Jenis fauna ini tergolong dalam kucing hutan yang berasal dari California, Amerika Serikat. Memiliki ukuran badan panjang, memiliki otot-otot tubuh yang kuat, tubuhnya besar dan tebal (gagah), memiliki bulu rapat dan halus, serta berat untuk jantan bisa mencapai 10 kg dan 4 – 5 kg untuk kucing betina. Kucing ini memiliki warna cokelat dan hitam.

Kucing Hutan Jawa atau macan Tutul Jawa

Kucing Hutan Jawa atau macan Tutul Jawa

Sesuai dengan namanya saja macan tutul jawa atau Panthera pardus melas memiliki habitat yang banya di Pulau Jawa. Kucing ini merupakan satu-satunya jenis kucing besar yang masih bertahan hidup di hutan Jawa, menggantikan Harimau jawa yang dinyatakan sudah punah sejak 1980-an.

Hewan ini yang berada di Indonesia termasuk ke dalam satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang. Kucing ini memiliki dua variasi warna, yaitu warna terang dan warna gelap. Sekilas, fisik dari kucing ini terlihat hampir sama dengan karateristik kucing kampung. Memiliki ukuran tubuh 90 – 150 cm dengan tinggi 60 – 95 cm dan berat 40-60 kg.

Menurut Lembaga internasional IUCN sendiri, diperkirakan hanya sebanyak 250 ekor macan masih tersisa di habitatnya. Sama seperti kucing lainnya, jenis ini juga sudah memasuki daftar merah dengan status Kritis dikarenakan perburuan liar.

Kucing Hutan Norwegia

Kucing Hutan Norwegia

Jenis kucing yang satu ini adalah keturunan dari kucing-kucing berbulu panjang dari Turki, dan kemudian dibawa kembali dari Byzantium oleh para prajurit Skandinavia yang masih melayani Kekaisaran Bizantium pada saat itu. Di Norwegia sendiri, kucing hutan atau Skogcatt (Bahasa Norwegia) ini telah menjadi teman atau peliharaan petani atau ibu rumah tangga.

Kucing ini memiliki ciri dan karateristik tubuh yang jumbo, beratnya bisa mencapai 10 kg, akan tetapi untuk yang betina ukurannya sedikit lebih kecil. Suka memanjat dan memiliki bulu yang tahan dengan air. Cerewet dan suka akan manusia, akan tetapi tidak suka dipangku.

Kucing Kuwuk Atau Congkok

Kucing Kuwuk Atau Congkok

Kucing kuwuk atau kucing congkok yang memiliki nama latin Prionailurus Bengalensis adalah kucing liar yang berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur. Pada tahun 2002, jenis kucing ini masuk ke dalam spesies berisiko punah oleh IUCN (Uni Internasional untuk Konversi Alam) dan ditetapkan sebagai spesies yang langka.

Prionailurus bengalensis syn. Felis bengalensis memiliki ciri tubuh berbintik seperti macan tutul, sehingga kucing satu ini sering disebut sebagai leopard cat. Kucing satu ini mempunyai dua sub-jenis yaitu Prionailurus javanensis javanensis di Jawa dan Prionailurus javanensis sumatranus di Sumatra dan Kalimantan. Cri kucing ini memilki tubuh langsing dengan panjang tubuh antara 30-66 cm dan berat hingga 3 kg. Bulu yang terdapat di kepala dengan adanya dua garis-garis warna gelap dan memeiliki warna bulu bermacam-macam, namun di wilayah selatan kucing ini memiliki warna coklat kekuningan.

Lembaga internasional IUCN memasukkan Kucing kuwuk dalam status Resiko rendah/Least concern dikarenakan kucing hutan ini diklaim terus menurun setiap tahunnya, kepadatan populasi kucing ini relatif rendah, antara 9,6 hingga 16,5 individu/100 km2. Meski demikian, kucing ini juga terancam punah sebab habitat dan juga perburuan liar yang terjadi di beberapa wilayah.

Kucing Tandang Atau Kepala Datar

Kucing Tandang Atau Kepala Datar

Prionailurus planiceps adalah nama latin dari Kucing Tandang Atau Kepala Datar  yang berukuran kecil, seukuran kucing domestik. Kucing yang memiliki warna abu-abu seperti Tupai ini merupakan kucing hutan endemik Asia Tenggara dan dapat ditemukan di hutan Sumatra dan Kalimantan. Prionailurus planiceps memiliki kepala yang nampak datar maka sering dijuluki kucing kepala datar.

Lembaga internasional IUCN memasukkan Kucing tandang dalam status Terancam/Endangered dalam daftar merah dan populasi kucing ini diperkirakan kurang dari 2,500 individu di alam bebas.

Macan Dahan Benua Atau Dahan Sunda

Macan Dahan Benua Atau Dahan Sunda

Termasuk dalam kucing hutan kalimantan dan memiliki nama ilmiah Neofelis nebulosa ini merupakan kucing dengan tubuh berukuran sedang dengan panjang sekitar 95 cm. Satwa karnivor ini dapat ditemukan di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Kucing ini memiliki dua sub-jenis, yaitu Neofelis diardi borneensis untuk jenis macan di Kalimantan dan Neofelis diardi diardi untuk jenis macan di Sumatra.

Memiliki habitat kawasan hutan hujan dataran rendah dan bersifat predator nokturnal (aktif pada malam hari) yang kerap berburu burung, ular, bekantan, dan mamalia kecil. Ditumbuhi bulu dengan warna dan corak mirip ular sanca termasuk ciri utama jenis fauna ini.

Menurut WWF kucing hutan ini masih sekitar 5.000 dan 11.000 macan dahan masih tersisa di Kalimantan. Sedangkan di Sumatera  sendiri diperkirakan hanya tersisa sebanyak 3.000 hingga 7.000. Lembaga internasional IUCN memasukan jenis hewan ini dalam daftar merah dengan status Terancam/Endangered.

Macan Dahan Kalimantan

Macan Dahan Kalimantan

Seperti dengan namanya, kucing ini memiliki habitat di pulau Kalimantan dan juga Sumatera. eofelis diardi sebagai nama latin dari kucing ini yang merupakan kucing liar dengan memiliki ukuran tubuh yang sedang.

ucing pemangsa terbesar yang ada di Kalimantan ini memiliki gigi taring terpanjang dibandingkan spesies kucing hutan lainnya, dengan berat tubuhnya bisa mencapai 25 kg, taring gigi sepanjang 2 inchi, dan panjang tubuh macan dahan kalimantan sekitar 90 cm dengan postur kekar. Memiliki sifat penyendiri sehingga sulit diketahui kebiasaannya di alam liar.

Menurut IUCN sendiri populasi macan dahan Kalimantan kurang dari 10.000 individu dewasa dan cenderung selalu menurun setiap tahunnya dikarenakan perburuan liar serta habitatnya yang semakin menghilang.

Macan Tutul Jawa

Macan Tutul Jawa

Panthera pardus melas atau macan tutul jawa adalah satu-satunya jenis kucing besar yang masih bertahan hidup di hutan Jawa, menggantikan Harimau jawa yang dinyatakan punah. Kucing besar ini hidup di Pulau Jawa, Pulau Kangean, Pulau Nusakambangan dan Pulau Sempu dan di hutan tropis, hutan pegunungan dan hutan konservasi di Pulau Jawa.

Memiliki panjang tubuh berkisar antara 90 – 150 cm dengan tinggi 60 – 95 cm dan berat 40-60 kg. Memiliki warna terang dan warna gelap. Sedangkan untuk versi gelap macan tutul ini sering dianggap sebagai jenis yang berbeda dan dikenal lebih dikenal dengan sebutan macan kumbang. Dibandingkan dengan jenis lainnya jenis satu ini memiliki indra penglihatan dan penciuman yang lebih tajam.

Menurut data dari Lembaga internasional IUCN, sejak 2007 telah memasukkan macan tutul jawa pada kondisi kritis dan Red List, serta diperkirakan sebanyak 250 ekor macan masih tersisa di kantung-kantung habitatnya.

Setelah anda mengetahui informasi di atas, diharapkan anda lebih bisa menjaga satwa satu ini dari kepunahan, serta selalu menjaga lingkungan sekitar agar habitat dari fauna lainnya tidak segera punah.

Give a Comment