Selera Bangsa All articles
Gaya Hidup & Mode

Dari Gang Jakarta ke FYP Amerika: Kisah Kucing Oren yang Kuasai TikTok

Selera Bangsa
Dari Gang Jakarta ke FYP Amerika: Kisah Kucing Oren yang Kuasai TikTok

Kalau kamu buka TikTok jam 11 malam, scrolling tanpa arah, jangan kaget kalau tiba-tiba muncul seekor kucing oren gendut berjalan santai di antara lapak tahu goreng, lengkap dengan caption dalam Bahasa Indonesia dan suara seseorang bilang, 'Eh, si oren udah makan belum?'

Video seperti itu sekarang jadi konten paling dicari di sisi lain dunia. Kucing-kucing liar dari gang-gang Jakarta, pasar Beringharjo, sampai warung kopi di Surabaya sedang ditemukan oleh jutaan penonton Amerika — dan mereka tidak hanya menonton, tapi juga berlangganan, berkomentar, dan bertanya-tanya: kok kucing di Indonesia bisa se-iklas hidupnya, tapi kelihatan bahagia banget?

Kucing Jalanan vs Kucing Rumahan

Di Amerika, konten kucing biasanya berputar di sekitar kucing ras dengan tempat tidur berbentuk donat, mainan laser, dan kamera 4K. Estetis, iya. Tapi ada sesuatu yang terasa 'terlalu bersih' dari semuanya.

Nah, kucing Nusantara justru menawarkan kebalikannya. Kucing oren yang tidur di atas karung beras, kucing hitam yang ikut antre di depan penjual sate, kucing kalong yang nyolong ikan di pasar — semuanya punya cerita. Ada jangkar, ada luka, ada karakter. Netizen Amerika bahkan punya istilah untuk mereka: 'street cats with a whole backstory.'

'Orang di sini suka kucingnya karena mereka kelihatan punya kehidupan sendiri,' ujar salah satu kreator konten Indonesia yang video-video kucing pasarnya sudah dikomentari puluhan ribu kali dari akun-akun berbendera bintang. 'Bukan kucing peliharaan yang dipoles buat kamera. Mereka bintang yang ga mau tau dia bintang.'

Algoritma yang Jujur

Ada alasan teknis kenapa konten ini menembus pasar Amerika. Algoritma TikTok memang terkenal suka konten hewan, tapi yang bikin video kucing Nusantara beda adalah unsur spontanitasnya. Kamera HP biasa, suara pasar, bahasa yang ga dimengerti penonton — dan justru itu daya tariknya.

Banyak penonton Amerika bilang mereka menonton video-video itu untuk merelaksasi diri sebelum tidur. Suara latar abrak-abrik pasar tradisional, gamelan yang kadang kebablosan dari warung sebelah, dan suara penjual yang manggil-manggil jadi semacam ASMR yang ga bisa direplikasi di studio mana pun.

Dari Hiburan Jadi Jembatan Budaya

Yang menarik, viralitas ini perlahan membuka pintu lain. Beberapa kreator mulai menjelaskan konteks dalam bahasa Inggris di kolom komentar: kenapa kucing pasar di Indonesia jarang diberi nama resmi tapi tetap 'dimiliki' seluruh komunitas, atau filosofi kucing oren sebagai 'kucing tanggungan' yang diberi makan bergilir oleh para pedagang.

Konsep komunal ini nyentuh banget buat penonton Amerika yang terbiasa dengan budaya kucing individualistis — satu kucing, satu keluarga, satu rumah. Di pasar Nusantara, kucing itu milik semua orang dan takdirnya diurus semua orang.

Bintang yang Ga Pernah Minta Kontrak

Ada keunikan ironis di sini: sementara influencer Amerika berebut kontrak iklan, bintang-bintang paling digemari di TikTok justru kucing-kucing yang ga pernah minta apa-apa selain sisa ikan dan tempat tidur yang hangat.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari fenomena ini. Di tengah banjir konten yang semua serba direkayasa, keaslian tetap menang. Dan keaslian itu, ternyata, sering ditemukan di gang sempit Jakarta, bukan di studio Hollywood.

Jadi kalau kamu lihat kucing oren tidur di depan warung kamu besok pagi, salamin. Dia mungkin sedang naik daun di Amerika.

All Articles

Related Articles

Lupakan Ruang Karaoke Mahal: Bar di Chicago Kini Gila 'Nyanyi Bareng' ala Warung Kopi Indonesia

Lupakan Ruang Karaoke Mahal: Bar di Chicago Kini Gila 'Nyanyi Bareng' ala Warung Kopi Indonesia

Skip Coachella, Keja ke Sawah: Kenapa Milenial Amerika Lari ke Festival Musik Nusantara

Skip Coachella, Keja ke Sawah: Kenapa Milenial Amerika Lari ke Festival Musik Nusantara

Gerak Kilat dari Nusantara: Kenapa Para Stuntman Hollywood Pusing Belajar Pencak Silat

Gerak Kilat dari Nusantara: Kenapa Para Stuntman Hollywood Pusing Belajar Pencak Silat