Selera Bangsa All articles
Gaya Hidup & Mode

TikTok vs Televisi: Siapa yang Kini Memegang Kendali Budaya Pop Indonesia?

Selera Bangsa
TikTok vs Televisi: Siapa yang Kini Memegang Kendali Budaya Pop Indonesia?

Photo: Rahmatlkt, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Ada momen yang cukup ikonik terjadi beberapa waktu lalu: seorang kreator TikTok asal Bandung memposting video tutorial memakai kebaya modern dengan lagu remix dangdut koplo sebagai latar. Dalam 48 jam, videonya ditonton lebih dari 20 juta kali. Sementara itu, artis senior yang sudah puluhan tahun berkarier di industri hiburan Indonesia baru saja merilis single baru yang—dengan segala hormat—hanya tembus 2 juta views dalam seminggu.

Itulah realita baru budaya pop Indonesia. Dan pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang paling terkenal, tapi siapa yang paling berpengaruh.

Dulu, Gatekeeper Itu Nyata dan Berkuasa

Selama beberapa dekade, industri hiburan Indonesia punya struktur yang cukup jelas. Ada label rekaman besar, ada rumah produksi sinetron yang menguasai prime time, ada majalah hiburan yang menentukan siapa yang layak disebut "bintang". Kalau kamu tidak masuk radar mereka, kamu tidak akan kemana-mana.

Bintang-bintang seperti yang lahir dari ajang pencarian bakat televisi nasional punya jalan yang sudah terpeta: menang lomba, dapat kontrak, masuk dapur rekaman, promosi di acara musik televisi, jadilah idola. Sistemnya rigid, tapi terbukti menghasilkan nama-nama yang sampai hari ini masih dikenal luas—bahkan oleh komunitas Indonesia di Amerika Serikat yang mengikuti perkembangan dari jauh.

Tapi sistem itu mulai retak sekitar tahun 2018-2019, dan benar-benar pecah ketika pandemi datang.

Pandemi Sebagai Katalis Perubahan

Ketika studio televisi tutup, jadwal syuting berantakan, dan konser dibatalkan, para kreator digital justru sedang warming up. Dengan modal kamera HP dan kreativitas, mereka mengisi kekosongan hiburan yang ditinggalkan industri konvensional.

Di sinilah yang menarik: konten mereka bukan hanya hiburan kosong. Banyak kreator muda yang justru membawa kembali elemen budaya tradisional—dari tutorial memasak rendang dengan storytelling yang engaging, sampai penjelasan makna di balik motif batik dalam format yang fun dan relatable. Mereka menjadi kurator budaya tanpa gelar, tanpa studio mewah, tapi dengan jangkauan yang luar biasa.

Bagi diaspora Indonesia di kota-kota seperti Houston, Chicago, atau Seattle, konten-konten ini menjadi jendela ke tanah air yang terasa lebih segar dan autentik dibanding siaran televisi yang terasa kaku.

Generasi Baru yang Tidak Minta Izin

Yang membedakan kreator digital dari bintang tradisional bukan hanya platform-nya. Ini soal cara kerja dan filosofi berkarya.

Kreator TikTok dan Instagram tidak menunggu label rekaman melirik mereka. Mereka tidak butuh wawancara di majalah glossy untuk membangun citra. Mereka langsung berbicara ke audiens, membangun komunitas satu per satu, dan kalau kontennya beresonansi—algoritma yang akan bekerja untuk mereka.

Ambil contoh bagaimana tren fashion batik kontemporer menyebar baru-baru ini. Bukan dari runway Jakarta Fashion Week yang diliput media besar, tapi dari serangkaian video "OOTD Batik ke Mall" yang diposting oleh kreator-kreator berusia 18-25 tahun. Tiba-tiba, batik terasa cool bagi Gen Z—sesuatu yang bertahun-tahun coba dilakukan oleh brand fashion mapan dengan budget marketing yang jauh lebih besar.

Tapi Bintang Tradisional Tidak Tinggal Diam

Tentu saja, industri konvensional tidak bodoh. Banyak artis senior yang beradaptasi dengan cerdas. Beberapa di antara mereka justru menjadi kreator konten paling sukses di platform digital—memanfaatkan nama besar mereka sebagai modal awal, lalu membuktikan bahwa mereka bisa berbicara dalam bahasa digital yang baru.

Ada juga kolaborasi yang menarik: kreator muda berkolaborasi dengan musisi senior, menghasilkan konten yang menjembatani dua generasi sekaligus. Hasilnya? Nostalgia yang dikemas ulang dengan energi segar. Lagu-lagu lama yang kembali viral, tarian tradisional yang dimodifikasi jadi challenge TikTok, dan budaya nusantara yang tiba-tiba dibicarakan oleh anak-anak muda di belahan dunia lain.

Pertarungan Narasi di Panggung Global

Bagi audiens Indonesia di Amerika, dinamika ini terasa sangat nyata. Komunitas diaspora seringkali menjadi barometer pertama seberapa jauh sebuah konten budaya Indonesia bisa menembus pasar internasional.

Dan yang mereka pilih untuk dikonsumsi dan dibagikan ke teman-teman Amerika mereka? Lebih sering konten kreator digital yang berbicara dengan bahasa universal—humor yang relatable, estetika visual yang kuat, dan cerita yang tidak membutuhkan penjelasan panjang untuk dipahami.

Ini bukan berarti bintang tradisional kehilangan relevansi. Mereka masih punya pengaruh yang tidak bisa diremehkan, terutama untuk segmen audiens yang lebih senior dan untuk acara-acara budaya besar. Tapi siapa yang menentukan tren, siapa yang pertama kali memperkenalkan sesuatu yang baru, siapa yang membuat orang muda di Jakarta dan Jakarta Selatan (alias Jaksel, alias komunitas Indonesia di LA) merasa seen—jawabannya semakin sering mengarah ke kreator digital.

Demokratisasi yang Sesungguhnya

Pada akhirnya, yang paling menarik dari pergeseran ini bukan soal siapa yang "menang". Yang menarik adalah bahwa budaya pop Indonesia kini memiliki lebih banyak pintu masuk, lebih banyak suara, dan lebih banyak definisi.

Seorang anak dari Makassar bisa memperkenalkan kuliner Sulawesi ke penonton global tanpa perlu izin dari siapapun. Seorang pemuda Yogyakarta bisa membuat konten tentang filosofi Jawa yang ditonton jutaan orang di seluruh dunia. Seorang perempuan Dayak bisa memperkenalkan seni tradisi sukunya kepada generasi muda yang mungkin belum pernah mendengarnya.

Demokratisasi ini, dengan segala kekacauan dan ketidakpastiannya, mungkin adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada budaya pop nusantara. Bukan karena televisi itu buruk atau bintang tradisional tidak relevan—tapi karena kini, selera bangsa benar-benar ditentukan oleh bangsa itu sendiri.

All Articles

Related Articles

Dari Sinetron ke Sinema Dunia: Kenapa Netflix dan Disney+ Rebutan Drama Indonesia

Dari Sinetron ke Sinema Dunia: Kenapa Netflix dan Disney+ Rebutan Drama Indonesia

Ketika Gamelan Bertemu Beat Drop: Musisi Indonesia yang Bikin Dunia Barat Terpesona

Ketika Gamelan Bertemu Beat Drop: Musisi Indonesia yang Bikin Dunia Barat Terpesona

Batik Bukan Sekadar Kain: Bagaimana Warisan 1.500 Tahun Indonesia Meledak di Panggung Mode Amerika

Batik Bukan Sekadar Kain: Bagaimana Warisan 1.500 Tahun Indonesia Meledak di Panggung Mode Amerika